Oleh: Dede, S.IP
Wakil Ketua Bapemperda dan Anggota Komisi I DPRD Kota Tasikmalaya
Setiap Agustus, suasana Kota Tasikmalaya berubah. Bendera merah putih berkibar di depan rumah, sekolah, kantor, dan sepanjang jalan. Masyarakat mengikuti berbagai kegiatan untuk memperingati kemerdekaan. Tahun ini, kita memperingati 81 tahun Indonesia merdeka.
Kita tentu bersyukur atas kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa. Namun, di tengah perayaan itu, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sudahkah kemerdekaan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat Tasikmalaya?
Pertanyaan ini bukan untuk mengurangi rasa syukur. Justru sebaliknya. Kemerdekaan perlu kita maknai secara lebih substantif. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk bekerja, berusaha, mendapatkan pendidikan, memperoleh pelayanan publik yang baik, dan membangun kehidupan yang lebih sejahtera.
Ekonomi Tumbuh, Pekerjaan Rumah Masih Ada
Kita memiliki alasan untuk optimistis. Data BPS menunjukkan ekonomi Kota Tasikmalaya pada 2025 tumbuh 5,39 persen. Indeks Pembangunan Manusia mencapai 76,59. Ini merupakan capaian yang patut diapresiasi.
Namun, masih ada pekerjaan rumah. Tingkat Pengangguran Terbuka Kota Tasikmalaya berada pada 6,43 persen, sementara persentase penduduk miskin masih 10,84 persen.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya ada keluarga yang harus mengatur pengeluaran dengan ketat, anak muda yang mencari pekerjaan, pedagang yang berjuang mendapatkan pembeli, dan pelaku UMKM yang berusaha mempertahankan usahanya.
Karena itu, kita tidak cukup hanya bertanya seberapa tinggi ekonomi tumbuh. Kita juga harus bertanya: apakah masyarakat ikut merasakan hasil pertumbuhan tersebut?
Kemerdekaan Ekonomi Berarti Kesempatan
Menurut saya, kemerdekaan ekonomi berarti masyarakat memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya. Orang yang ingin bekerja memiliki akses terhadap pekerjaan. Orang yang ingin berusaha mendapatkan kemudahan. UMKM memiliki ruang untuk berkembang. Anak muda mendapatkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Tasikmalaya memiliki modal yang kuat untuk itu. Kita memiliki masyarakat yang kreatif, tradisi perdagangan yang kuat, pelaku UMKM, sektor kuliner, fesyen, kerajinan, jasa, pendidikan, ekonomi kreatif, serta generasi muda yang semakin akrab dengan teknologi.
Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diubah menjadi kesempatan ekonomi yang lebih besar. UMKM harus didorong naik kelas. Anak muda tidak hanya diarahkan menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Produk lokal harus mampu menembus pasar yang lebih luas.
Pemerintah Harus Membuka Jalan
Pemerintah memang tidak mungkin menciptakan seluruh lapangan kerja. Namun, pemerintah dapat menciptakan lingkungan yang membuat masyarakat lebih mudah bekerja dan berusaha.
Regulasi harus memberikan kepastian. Pelayanan publik harus sederhana. Perizinan harus mudah. Pendidikan dan pelatihan harus relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Anggaran daerah juga harus diarahkan pada program yang memberikan dampak nyata.
Sebagai Wakil Ketua Bapemperda dan Anggota Komisi I DPRD Kota Tasikmalaya, saya melihat kualitas regulasi dan tata kelola pemerintahan memiliki hubungan erat dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Peraturan daerah jangan hanya berhenti sebagai dokumen hukum. Regulasi harus memberikan ruang dan kepastian bagi masyarakat. Pengawasan DPRD juga harus memastikan kebijakan yang telah disepakati benar-benar berjalan dan memberikan manfaat.
Masyarakat membutuhkan pemerintah yang mampu membuka jalan, bukan menambah hambatan.
Jangan Kehilangan Optimisme
Kita tidak sedang mengatakan bahwa pembangunan Kota Tasikmalaya tidak mengalami kemajuan. Justru sebaliknya. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas pembangunan menunjukkan adanya perkembangan yang patut diapresiasi.
Namun, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk bergerak lebih jauh.
Pertumbuhan ekonomi jangan hanya terlihat dalam laporan. Ia harus terasa di pasar yang semakin ramai, usaha yang semakin berkembang, lapangan kerja yang semakin terbuka, pendapatan keluarga yang semakin baik, dan anak muda yang memiliki masa depan lebih jelas.
Momentum HUT RI ke-81 harus menjadi pengingat bahwa mengisi kemerdekaan adalah pekerjaan bersama. Pemerintah bekerja lebih efektif. DPRD mengawal melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Dunia usaha membuka kesempatan. Perguruan tinggi melahirkan inovasi. Anak muda menciptakan peluang. Masyarakat terus meningkatkan keterampilan dan produktivitas.
Saya percaya Tasikmalaya memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh. Kita memiliki sumber daya manusia, pelaku usaha, anak muda, dan berbagai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.
Karena itu, mari kita memperluas makna kemerdekaan. Merdeka bukan hanya bebas menentukan nasib sebagai bangsa. Merdeka juga berarti memiliki kesempatan yang semakin luas untuk bekerja, berusaha, berkembang, dan membangun masa depan.
Tasikmalaya tidak cukup hanya tumbuh.
Tasikmalaya harus tumbuh bersama.
Itulah salah satu cara terbaik untuk mengisi kemerdekaan.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Dari Tasikmalaya, untuk Indonesia yang semakin maju dan sejahtera.






